Selasa, 02 Juni 2009

Kristologi Dalam Konteks Islam di Indonesia

1. Pendahuluan
Dialog antariman dalam rangka upaya saling memahami agama satu dengan yang lain sudah sering dilakukan. Dialog ini mencoba menjembatani memberikan pengertian ajaran agama yang satu kepada yang lain dan sebaliknya. Upaya dialog bukanlah untuk mencampuradukan agama apalagi membentuk suatu agama baru. Dialog berusaha memaparkan pemahaman suatu agama melalui istilah dan alam pikir agama lain. Upaya semacam ini diusahakan agar dapat memberi penjelasan yang sesuai dengan konteksnya. Dialog ini bukan dalam rangka menemukan kesalahan atau kelemahan pada agama lain. Dialog ini merupakan suatu upaya pengertian guna menumbuhkan rasa saling menghormati antar agama.
Dalam rangka dialog, kekristenan juga berupaya berdialog dengan agama lain. Agar mudah dimengerti, Kekristenan juga mencoba menjelaskan dan memaparkan ajaran agamanya menurut istilah dan alam pikir agama lain. Para teolog mencoba untuk melahirkan suatu teologi yang kontekstual dengan alam pikir agama lain agar dialog terjalin dengan baik. Salah satu yang ajaran yang perlu dikoktekstualisasikan adalah ajaran mengenai Yesus Kristus. Kristologi menjadi sesuatu yang sentral di dalam agama Kristen. Kristologi bisa dibilang sebagai inti ajaran Kristen dan hal inilah yang cukup penting untuk dikonteksualisasikan dalam ajaran agama lain.
Di Indonesia kekristenan hidup berdampingan dengan agama Islam. Islam merupakan agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk di Indonesia. Di Indonesia perselisihan antara bernafaskan agama sering terjadi. Perselisihan ini tak jarang juga berujung pada konflik. Walaupun sebenarnya masalahnya adalah masalah politik atau ekonomu, namun tak jarang masalah politik ini dihembusi oleh nafas agama oleh oknum-oknum tertentu yang memperoleh keuntungan dari perselisihan ini. Bisa dibilang masyarakat hanya menjadi korban dari sebagian orang yang mengutamakan kepentingan politik atau ekonominya.
Dialog dan upaya pemahaman antara agama ini diharapkan mampu mengurangi potensi-potensi konflik yang terjadi. Dalam hal ini Kekristenan berupaya untuk mengkontekstualisasikan Kristologinya guna mengarah pada suatu dialog. Tentu ada berbagai kesulitan yang terjadi, yang dikarenakan oleh adanya perbedaan terminologi dan alam pikir antar agama yang berbeda. Perlu suatu upaya dari Kekristenan sendiri memahami alam pikir agama Islam dalam konteks Indonesia. Dengan memahami istilah dan alam pikir yang kerap kali digunakan di dalam Islam, maka niscaya dialog akan terjalin dengan baik.
2. Isi
2.1 Islam di Indonesia

Islam di Indonesia merupakan Islam yang berbeda dengan Islam yang berada di dalam negara-negara lainnya. Islam di Indonesia merupakan kelompok mayoritas, bahkan Indonesia disebut sebagai negara yang memiliki penduduk muslim terbanyak di dunia. Penyebaran Islam di Indonesia dilakukan melalui pedagang-pedagang Islam dari Gujarat dan India. Sebelum Islam masuk ke tanah Nusantara, aliran kepercayaan seperti animisme dan dinamisme serta ajaran Hindu-Budha sangat mendominasi masyarkat di Nusantara. Kedatangan para pedagang Islam yang menyebarkan agama Islam di Indonesia itu semula dilakukan hanya untuk berdagang. Kebanyakan dari mereka menetap di tanah Nusantara dan mereka berdagang sambil menyebarkan Islam. Istilah yang sering kita dengar adalah syiar.
Dalam perbincangan-perbincangan para pedagang Islam dengan orang pribumi itulah orang-orang Islam melakukan syiar. Penyebaran Islam tidak hanya dilakukan dengan hal ini, akan tetapi juga dengan cara menikahi perempuan-perempuan pribumi. Syiar Islam saat itu yang biasa dianggap umat Muslim sekarang sebagai penyebaran agama dengan jalan damai ini terus dilakukan dan ajaran ini berkembang pesat hingga mengalahkan dominasi agama-agama pribumi.
Dalam perkembangannya, tidak dapat kita pungkiri bahwa Islam di Indonesia berkembang di bawah pengaruh animisme, dinamisme dan ajaran Hindu-Budha. Pengaruh ajaran ini tidak sama sekali hilang ketika seorang pribumi memeluk Islam. Ajaran-ajaran tersebut ada yang dibuang akan tetapi ada juga yang tetap dipegang. Ajaran tersebut masih sangat berpengaruh hingga perkembangan Islam pada masa sekarang. Dapat dilihat bahwa ada gejala-gejala bahwa animisme, dinamisme dan ajaran Hindu-Budha ikut mempengaruhi perkembangannya. Apa yang membedakan Islam di Indonesia dengan Islam di Negara lain adalah bahwa perkembangan Islam di Indonesia sangat dipengaruhi mistisisme.
Praktek-praktek budaya pra-Islam salah satunya nampak di dalam kehidupan keraton jawa. Praktek-praktek ini hanya memberi takaran yang minim terhadap ajaran Islam, seperti misalnya perayaan sekaten. Jika kita cermati, justru yang terjadi di Indonesia adalah ajaran Islam yang tidak menjadi yang utama tapi menjadi yang hanya diberi sedikit porsinya. Disini nampak jelas pengaruh animisme, dinamisme dan ajaran Hindu-Budha di dalam perkembangan Islam di Indonesia yang masih sangat kental.
2.2 Pandangan Umum Orang Islam Terhadap Yesus Kristus
Jika kita mencermati buku-buku dan isu yang beredar di Indonesia, maka kita akan melihat ada upaya dari umat Muslim di Indonesia guna memahami Kekristenan itu sendiri. Akan tetapi saya melihat bahwa kebanyakan dari mereka mencoba menjelaskan dan mengartikan Kristus dari sudut pandang dan alam pikir Islam. Kebanyakan umat Muslim di Indonesia pun sudah jatuh pada penghakiman awal bahwa Kekristenan adalah ajaran agama yang berbeda dengan mereka dan dianggap sebagai agama yang sesat karena menganggap Yesus sebagai Tuhan. Upaya pemahaman tentang Kristus oleh umat Islam di Indonesia masih bersifat eksklusif dan sama sekali menolak unsur-unsur kebenaran yang terdapat di dalam Kekristenan. Tentu saja tidak semua umat muslim seperti ini, namun sebagian besar upaya pemahamannya masih seperti ini.
Hal utama yang seringkali ditolak oleh umat Muslim dalam pandangan Kristen adalah mengenai keilahian dan kemanusiaan Kristus. Mereka menganggap bahwa tak mungkin bahwa seseorang itu ilahi sekaligus manusiawi. Mereka menganggap Yesus hanyalah seorang nabi dan sama seperti nabi yang lainnya. Mereka sama sekali menolak keilahian Yesus karena itu semua tidak sesuai dengan ajaran agama mereka.
Mereka juga menolak bahwa Allah diperanakan di dalam rahim Maria. Biasanya mereka menolak pemahaman ini karena bertentangan dengan ajaran mereka, seperti yang tertulis di dalam Al-Quran dalam surat Al-Ikhlas, yaitu bahwa Tuhan itu Esa dan Dia tidak diperanakan. Pemahaman yang sering muncul dalam umat Muslim adalah bahwa umat Kristen menganggap bahwa Allah mengawini Maria hingga kemudian lahirlah Yesus. Mereka tidak bisa menerima pandangan bahwa Allah melakukan hubungan seksual dengan manusia. Kemungkinan dalam perkembangan Islam ada sedikit pengaruh dari alam pikir Yunani. Dalam tradisi Yunani kita mengenal bahwa seringkali para Dewa melakukan hubungan seksual dengan manusia hingga akhirnya manusia melahirkan anak manusia setengah dewa. Misalnya: cerita mengenai Zeus yang mengawini seorang manusia dan melahirkan Hercules. Saya menduga bahwa pemahaman akan Kristus yang coba dipahami oleh umat Islam juga ternyata dipengaruhi alam pikir Yunani. Karena jika kita cermati, ajaran Islam juga banyak terpengaruh alam pikir Yunani. Misalnya: Pemahaman bahwa Muhammad pernah sampai pada langit ke tujuh. Jika Kristologi ini dimengerti di dalam alam pikir Yunani yang sama sekali ditolak oleh umat Muslim (tentang Allah yang memperanakan dan diperanakan). Maka Kristologi mengenai keilahian Kristus tidak akan dapat dimengerti.
Ketika para pedagang Islam menyebarkan Islam, tentu mereka melihat perkembangan ajaran agama penduduk setempat yang mereka anggap politheis. Hal ini tentu berbeda dengan prinsip Islam dan ketika seseorang masuk Islam, maka ajaran ini haruslah dibabat habis dan ditekan sama sekali. Ajaran mengenai Tuhan yang Esa adalah sangat penting saat itu dan tak boleh sama sekali mempengaruhi ajaran Islam. Karena di dalam Islam kemurnian ajaran sangatlah penting. Saya mengira hal ini juga berdampak pada umat muslim sekarang yang sangat tegas ketika menghadapi ajaran lain, terkhusus bagi ajaran Trinitas di dalam Kekristenan.

Hal lain yang tidak bisa dimengerti oleh umat muslim adalah ketika kematian Yesus dianggap sebagai kematian yang menebus manusia. Dalam pemahaman mereka Yesus adalah seorang nabi dan seorang nabi tentu saja seharusnya tidak mati, karena Tuhan melindungi nabi-nabi-Nya dari bahaya. Mereka menganggap bahwa jika Tuhan mau mengampuni maka Tuhan hanya mengampuni dan tidak membutuhkan tindakan lain. Selain itu ada kesulitan lain dalam memahami Yesus yang ilahi karena kelemahan-kelemahan fisiknya. Misalnya saja Yesus yang ketakutan dan menangis. Kelemahan-kelemahan yang nampak di dalam Yesus, seperti yang disebutkan dalam Alkitab menjadikan pemahaman tidak bisa diterima oleh kalangan umat Muslim.
Hal-hal diatas merupakan kesulitan yang dialami umat muslim pada umumnya untuk memahami Kristus. Akan tetapi di Indonesia memiliki sedikit perbedaan akan kesulitan yang dialami umat Muslim dalam upaya memahami Yesus. Saya membagi beberapa bagian, yaitu kesulitan pada pemahaman akan keilahian Kristus, Yesus sebagai Anak Allah dan ajaran Trinitas
Alam pikir Islam Tradisional tidak dapat mengerti tentang inkarnasi, Anak Allah dan Trinitas karena memang tidak terdapat di dalam Al-Quran. Jelas bahwa perbedaan alam pikir antara kedua agama ini tidak dapat terjembatani. Apa yang terjadi dalam upaya pemahaman tentang Kristus dalam konteks Islam biasanya menggunakan alam pikir yang non-Kristen atau non-Alkitabiah. Hal ini rasanya menyebabkan upaya penjelasan umat Kristen terhadap umat Muslim menjadi sesuatu yang cukup menyulitkan.
Maka dari itu perlu bagi kita menyebrangi ke dalam agama muslin dan mempelajari terminologi, istilah dan alam pikir yang digunakan di dalam Islam. Dengan demikian maka kita akan dapat mencoba menjelaskan itu semua dalam alam pikir Islam.
2.3 Keilahian Yesus Kristus
Umat muslim terkadang kurang dapat menerima bahwa Yesus adalah ilahi karena suatu penjelasan bahwa Yesus adalah anak Allah yang dikandung di dalam rahim Maria. Mereka tidak dapat menerima hal ini karena hal ini terdengar cukup aneh di telinga mereka. Dalam Islam Yesus dikenal sebagai nabi Isa dan Nabi Isa di dalam Al-Quran dijelaskan sebagai yang tidak diciptakan, melainkan diktum “kalimat Allah” yang diletakkan oleh Allah tanpa proses pembuahan (QS. an-Nissa 4:171). Hal ini juga serupa dengan keterangan yang diberikan di dalam bahwa Yesus lahir bukan karena bertemunya sperma dengan ovum. Pada ayat Al-Quran ini juga diterangkan bahwa sebelumnya Allah memberi tahu Maria. Maria bertanya-tanya dan terheran-heran, bagaimana ia akan mengandung dan melahirka karena tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhnya. Jika kita cermati, nampaknya keterangan ini hampir sama dengan keterangan yang diberikan oleh injil.
Di dalam ilmu kalam Islam pengertian kalimat Allah atau firman Allah dimengerti sebagai suatu sifat, sedangkan Allah adalah Dzat. Dari pengertian ini kita dapat menjelaskan Injil Yohanes mengenai kalimat “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Firman adalah sesuatu yang senantiasa melekat dan tidak terpisahkan dari Allah. Sebenarnya pemahaman umat Muslim mengenai Firman hampir sama dengan yang ada pada ajaran Kristen.
Bagi umat Muslim, Al-Quran adalah Firman Allah yang turun ke dunia. Di dalam Alkitab juga dikatakan bahwa Yesus adalah Firman Allah yang berinkarnasi di dalam dunia. Disini kita kedua teks tersebut sebagai suatu jembatan untuk berdialog. Bambang Noorsena setuju dengan pendapat Hosein Nassr, seorang Islam dari Iran yang mengatakan bahwa Islam gagal memahami inkarnasi Yesus karena ia memakai kacamata Islam untuk memahami agama lain, yang salah satu contohnya adalah ketika Isa disamakan dengan Muhammad dan Injil disamakan dengan Al-Quran. Al-Quran itu nuzul (diturunkan) sedangkan Yesus dilahirkan. Keduanya memiliki sifat material dan immaterial. yunani
Hal ini biasanya menjadi suatu titik kesalahpahaman antara Islam dan Kristen. Dalam Islam, Firman itu menjelma secara tekstual, akan tetapi di dalam Kekristenan ini menjadi sesuatu yang kontekstual karena Firman tersebut telah menjadi manusia. Di dalam kekristenan, Firman tidak diartikan sebagai sesuatu yang kelihatan, melainkan sebagai sesuatu yang tidak kelihatan. Firman yang tidak kelihatan itulah yang menjelma di dalam diri Yesus Kristus. Disinilah letak kemanusiawian Yesus dan keilahian Yesus. Yesus sebagai yang 100% ilahi dan 100% manusiawi. Demikian juga halnya dengan Al-Quran yang adalah 100% Firman Allah, tetapi Firman Allah tersebut hadir dengan mengambil bentuk ruang dan waktu. Hal ni dikarenakan Al-Quran yang diturunkan di dalam dalam konteks budaya Arab dan menggunakan bahasa Arab.
Al-Quran dalam Islam sebagai sesuatu yang bukan diciptakan oleh Allah. Dalam hadits juga dikatakan bahwa: “Barangsiapa yang mengatakan Al-Quran tercipta maka dia kafir.” Tentu saja dalam hal ini bukanlah sebagai bendanya, akan tetapi Al-Quran dalam arti Firman Allah yang kekal dan menjelma di dalam bentuk bahasa Arab itu. Demikian pula dengan Yesus sebagai Tuhan bukanlah Tuhan yang kelihatan melainkan yang tidak kelihatan. Ajaran gereja mengatakan bahwa Yesus: “Genitum non factum” (dilahirkan, tidak diciptakan). Disini posisi nabi Isa sama dengan Al-Quran sebagai Firman Allah dan Maria sama dengan Muhammad sebagai penerima Firman itu. Firman yang menjadi manusia mengambil wadah di dalam rahim Maria yang merupakan Perawan, sedangkan Firman yang mewujud di dalam Kitab, penerimanya adalah Nabi Muhammad yang buta huruf.
2.4 Kristus Sebagai Anak Allah
Seringkali ada kesulitan dalam memahami bahwa Yesus adalah anak Allah. Di dalam Al-Quran, Yesus juga tidak dikenal sebagai Anak Allah, Yesus justru lebih banyak dipuja sebagai hamba Allah. Yesus berkali-kali disebut sebagai Anak Allah di dalam injil dan hal ini yang membuat kebingungan di kalangan umat Muslim mengenai kristologi yang berbeda yang berkembang di dalam kekristenan. Anggapan yang beredar (khususnya di Indonesia) bahwa makna anak Allah ini adalah sebagai yang diperanakan oleh Allah. Karena hal ini tidak sesuai dengan ajaran umat Muslim, maka umat muslim tidak dapat menerima hal ini. Surat al-Ikhlas biasanya digunakan untuk menghakimi orang-orang Kristen. Surat al-Ikhlas tersebut berbunyi demikian: Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." Surat ini biasanya wajib dihafalkan oleh anak-anak yang mengenyam bangku sekolah di sekolah negri atau sekolah Islam.
Pertama-tama kita perlu tahu konteks ayat ini. Ketika ayat ini diturunkan, Muhammad sedang menghadapi sekte-sekte bidah di daerah Arab yang menganggap bahwa Tuhan adalah tiga. Ketika itu Muhammad sedang menghadapi ajaran triteisme yang beredar dan berkembang di daerah Arab. Hal ini tentu saja dengan ajaran gereja yang juga tidak menganggap Allah itu tiga. Hal ini dijelaskan di dalam konsili gerejja yaitu pada konsili Lateran IV. Bunyinya ternyata hampir sama dengan salah satu ayat di dalam surat al-Ikhlas: “Lam Yalid walam Yulad” dan di dalam konsili tersebut ditegaskan di dalam bahasa latin: “et illa tes natura divina non ets generan neque genita” yang artinya adalah bahwa Dzat itu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Memang agak sedikit berbeda tapi hendak menegaskan prinsip yang sama.
Yang perlu diketahui adalah bahwa hubungan Anak Allah dan Bapa antara Yesus dan Allah bukanlah dimengerti secara lahiriah. Kata “Anak Allah” seharusnya dimengerti sebagai kedekatan hubungan antara Yesus dengan Allah. Anak Allah juga bukanlah di dalam pengertian bahwa Allah memperanakkan Yesus Kristus. Pada dasarnya, Islam dan Kristen adalah agama yang sama-sama mengakui Tuhan yang Esa. Yang seringkali terjadi adalah upaya pemahaman seringkali hanya menggunakan alam pikir agama masing-masing.
2.5 Ajaran Trinitas
Ajaran Trinitas adalah ajaran cukup sulit untuk diterima oleh kalangan umat Muslim di Indonesia. Ketika Islam masuk ke Indonesia, agama Islam banyak mendominasi dan membabat habis ajaran-ajaran atau aliran-aliran kepercayaam yang beredar, seperti ajaran animisme, dinamisme, ataupun ajaran Hindu-Budha. Kita mengetahui bahwa dalam agama Hindu-Budha terdapat banyak dewa-dewa yang disembah. Ketika seseorang menjadi Islam maka ajaran bahwa ada banyak dewa ini adalah hal yang salah dan ditentang habis-habisan. Karena banyak pengaruh Hindu-Budha maka agar ajaran Islam tidak tercampur dengan ajaran lain maka hal yang penting adalah bahwa Tuhan adalah Esa. Kemungkinan pembawa agama Islam itu tidak mau jika terjadi percampuran di dalam ajaran Islam dan Hindu-Budha. Ajaran adanya banyak dewa ini juga sesuatu yang sangat berbeda dan di tentang oleh ajaran Islam. Islam hanya mengakui satu Allah dan pengakuan bahwa Allah lebih dari satu adalah hal yang salah.
Pengertian bahwa Hindu-Budha adalah ajaran agama yang politheis adalah sesuatu yang masih beredar diantara kita sekarang ini. Ini juga yang ditolak oleh umat Muslim. Penegasan bahwa Allah itu adalah Esa menjadi sesuatu yang sangat ditekankan di dalam ajaran umat Muslim dan penyebarannya di Indonesia. Kemungkinan ini juga berdampak pada pola pemahaman yang salah tehadap Trinitas. Sebagian besar umat Muslim menganggap bahwa Trinitas merupakan triteisme atau bisa juga dibilang sebagai politheisme. Perlu ada upaya penjelasan yang mamahami alam pikir Islam dalam hal ini.
Bambang Noorsena menggunakan ayat Al-Quran untuk menjelaskan ajaran mengenai trinitas kepada umat Muslim. Ia menggunakan istilah dalam Islam yang sering mengatakan “inalaha ma’ash shabirin” yang artinya adalah Tuhan beserta orang sabar. Ia mengatakan bahwa tentu jumlah orang sabar di dunia ini ada lebih dari satu bahkan bisa jutaan. Jika demikian apakah Tuhan menjadi berjumlah seribu? Hal ini merupakan logika matematik dan tak bisa disamakan dengan logika metafisik. Disini dapat kita lihat bahwa manusia memiliki keterbatasan matematis sehingga manusia tak bisa mengerti Allah. Trinitas berarti satu hakikat tiga pribadi.
Dalam upaya mengembangkan suatu ajaran Trinitas yang dapat dijelaskan dalam konteks Islam, Banawiratma menggunakan apa yang ia sebut sebagai paradigma mediasi. Senada dengan Bambang Noersena, ia juga menyejajarkan Kristus dan Al-Quran sebagai Firman Allah (dabar, logos, kalimah). Sebagaimana Islam, di dalam Kristen, Allah sebagai Allah yang Esa, sedangkan Roh Kudus disejajarkan dengan malaikat Jibril. Di dalam budaya Semit, termasuk Arab dan Yahudi, Jibril dikenal sebagai manifestasi Allah. (Gabriel= kekuatan Allah, utusan Allah; Mikhael: Siapa yang sederajat dengan Tuhan; Rafael: Allah menyembuhkan). Ketika seorang manusia berdoa dan menggunakan ayat-ayat Al-Quran, maka hal ini sifatnya adalah manusiawi dan apa yang membuatnya menjadi ilahi hanyalah kekuatan Allah. Di dalam Kristen inilah yang disebut sebagai Roh Kudus. Roh Kudus adalah yang memampukan dan menguatkan manusia. Roh Kudus dan Malaikat Jibril disini diposisikan sama yaitu sebagai yang memberi kekuatan atau memampukan Allah.
3. Penutup
Para teolog Kristen telah mencoba untuk merumuskan Kristologi yang sesuai dengan konteks Islam. Perbincangan teologis antara Kristen dan Islam menemui kesulitan ketika berbicara tentang Kristus. Upaya perumusan Kristologi ini tentu saja tidak bisa dilakukan dengan sembarangan saja. Jika hal ini dilakukan tanpa kriteria atau batasan yang jelas, maka yang terjadi bisa jadi pencampuran antara kedua ajaran agama.
Seperti yang dikemukakan oleh Roger Haight bahwa Kristologi sebaiknya mememgang kriteria tertentu. Ada tiga kriteria yang ia kemukakan, kriteria yang Kristologi harus setia pada tradisi. Tradisi yang dimaksud disini adalah Alkitab dan tradisi gereja (tentang bagaimana Yesus merumuskan pandangan tentang Yesus. Kristologi seharusnya memegang hal ini agar orang tidak berbicara sembarangan mengenai Kristus. Kalau kita tinjau Kristologi dalam konteks Islam ini, nampaknya kristologi ini masih memegang tradisi gereja dan Alkitab. Kristologi dalam konteks Islam di Indonesia hanya mencoba menjelaskan ajaran Alkitab dan tradisi gereja dengan bahasa, terminologi dan alam pikir Islam.
Kriteria yang kedua adalah Kristologi haruslah kristologi yang dapat dijelaskan dalam dunia masa kini. Bisa dikatakan bahwa Kristologi haruslah kontekstual. Kristologi harus bersifat dinamis dan terus diperbaharui seiring perkembangan zaman dan kebutuhan. Kristologi di dalam konteks Islam ini merupakan Kristologi yang berupaya menjawab kebutuhan untuk suatu dialog dengan umat Muslim. Kristologi ini adalah Kristologi yang mencoba mengkontekstualisasikan dirinya di dalam ajaran agama lain, sehingga agama lain dapat mengerti apa dan mengenal siapa Kristus. Saya pikir kriteria kedua ini juga cocok dengan Kristologi yang coba dirumuskan di dalam konteks Islam. Kristologi ini cocok dengan konteks jemaat Indonesia dimana mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Islam dan tentu saja kita harus berdialog.
Kriteria yang ketiga adalah Kristologi harus memberdayakan dan menguatkan kehidupan umat Kristen. Kristologi ini harus dapat meresap dalam kehidupan spiritual seseorang. Kristologi ini bisa membuat kehidupan seseorang lebih baik dan dapat menjawab masalah-masalah di dalam kehidupan. Saya rasa kristologi yang mencoba berbicara dalam alam pikir Islam ini juga merupakan Kristologi yang dapat memampukan dan memberdayakan orang Kristen. Dengan Kristologi ini maka seseorang diberdayakan untuk dapat berdialog dengan umat Muslim. Seseorang juga diberdayakan untuk menjalin hubungan yang baik dan harmonis dengan umat muslim, terutama bagi umat muslim di Indonesia.
Kristologi dalam Islam di Indonesia merupakan sumbangan dari para teolog-teolog yang menyadari pentingnya suatu dialog di dalam kehidupan bersama-sama dengan umat Muslim. Upaya dialog dan saling pengertian ini diharapkan juga dapat meredam potensi-potensi konflik antar agama. Perlu disadari bahwa Kristologi bukanlah sesuatu yang hanya dimiliki oleh orang Kristen saja. Kristologi adalah milik semua orang.
Yang terpenting pada saat ini adalah untuk terus mengkomunikasikan teks-teks Alkitab dengan konteks saat ini. Jika tidak demikian kita hanya akan jatuh pada Kristologi yang statis dan tidak memberdayakan orang Kristen. Kristologi harus terus bisa berkomunikasi dengan tantangan zaman dan menjawab kebutuhan suatu masyarakat tertentu.

2 komentar:

Blog Mantri mengatakan...

Sekedar meluruskan kalimat Anda dalam tulisan ini
Makna salah satu ayat dalam Qur’an Surat Al ikhlas ‘Tuhan itu Esa dan Dia tidak diperanakan’ itu benar. Namun kami tidak pernah meyakini bahwa Allah mengawini Maria hingga kemudian lahirlah Yesus. Ini suatu hal yang tidak pernah kami yakini.

thoriq mengatakan...

Masa bodo